Laman

Sabtu, 13 Oktober 2012

MENGGAMBAR DAN MELUKIS


MENGGAMBAR DAN MELUKIS

A.    Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, utusan yang paling mulia dan imam orang-orang yang bertakwa, juga kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.
            Makalah ilmiah ini membahas salah satu hal yang termasuk dosa-dosa besar, dan diharamkan atau dilarang. Yaitu Menggambar dan Melukis.
            Pengertian dosa-dosa besar adalah semua larangan Allah dan Rasulullah SAW yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta atsar dari para salafus shalih.
            Allah swt berfirman:

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”[1]
            Oleh karena itu, makalah ilmiah ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan kita tentang Dosa-dosa Besar yang salah satunya yaitu Menggambar dan Melukis.
B.     Isi
Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”[2]
‘Ikrimah berkata, “Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah mereka yang membuat gambar-gambar.”
Jika lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya. Orang yang melukis untuk maksud dan tujuan-tujuan itu, tidak lain dia telah menyebarkan kekufuran dan kesesatan.[3]
Ibnu Umar R.A. berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar, akan disiksa pada hari kiamat kelak. Dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa-apa yang kalian ciptakan itu!.”[4]
Imam Thabari berkata: “Yang dimaksud dalam hadits ini, yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat seperti itu adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti di atas, maka dia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar saja.”[5]
            ‘Aisyah R.A. berkata, “Ketika Rasulullah SAW pulang dari suatu perjalanan, beliau datang menemuiku. Sebelumnya aku telah memasang tirai pada lubang angin di tembok berupa kain tipis yang bergambar. Ketika beliau melihat kain itu, wajah beliau langsung berubah seraya berkata, ‘Wahai ‘Aisyah, manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat kelak adalah orang-orang yang mencoba menyamai Allah dalam hal menciptakan sesuatu.’” ‘Aisyah melanjutkan, “Maka aku pun memotong kain itu dan aku jadikan ia dua buah bantal.”[6]
            Ibnu ‘Abbas R.A. berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
ﻛﻝ ﻤﺻﻮﺭﻓﻲ ﺍﻟﻧﺎ ﺭﻴﺟﻌﻝ ﻟﻪ ﺑﻜﻝ ﺼﻮﺭﺓ ﺼﻮﺭﻫﺎ ﻨﻔﺴﺎ ﻓﺗﻌﺬ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺠﻬﻧﻡ
Semua tukang gambar akan masuk neraka. Setiap gambar yang dibuatnya akan diberi nyawa dan akan menyiksanya di neraka Jahannam.”[7]
            Masih dari Ibnu ‘Abbas R.A. berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
ﻤﻥ ﺼﻭﺭﺼﻭﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺪ ﻨﻴﺎ ﻜﻟﻑ ﺃﻥ ﻴﻨﻔﺦ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺭﻭﺡ ﻴﻭﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎ ﻤﺔ ﻭﻟﻴﺱ ﺑﻧﺎﻓﺦ ﺃﺑﺪﺍ
Barangsiapa membuat gambar di dunia kelak pada hari kiamat akan dipaksa untuk meniupkan nyawa ke dalamnya, padahal ia tidak akan pernah bisa meniupkannya ke dalamnya selama-lamanya.”[8]
            Rasulullah SAW bersabda:
ﻴﻗﻭﻝ ﻭﻤﻦ ﺃﻇﻟﻡ ﻤﻤﻦ ﺬﻫﺐ ﻴﺧﻟﻖ ﻛﺧﻟﻗﻲ ﻓﻟﻴﺧﻟﻘﻭﺍ ﺤﺑﺔ ﻭﻟﻴﺧﻟﻘﻭﺍ ﺫﺭﺓ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Siapa yang lebih zhalim daripada orang yang berusaha membuat ciptaan seperti ciptaan-Ku? Maka hendaklah mereka membuat sebutir biji, atau sebutir jagung (kalau bisa)!’”[9]
            Allah mengungkapkan firman-Nya dengan kata-kata “dzahaba yakhluqu kakhalqi” (dia berusaha membuat ciptaan seperti ciptaan-Ku). Ini menunjukkan adanya suatu kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaannya dan keindahannya. Oleh karena itu, Allah menantang mereka supaya membuat sebutir biji. Allah memberikan isyarat, bahwa mereka itu benar-benar sengaja untuk maksud tersebut. Karena itu Allah akan membalas mereka dan mengatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kamu cipta itu!” Mereka dipaksa untuk meniupkan ruh ke dalam lukisannya itu, padahal dia tidak akan mampu melakukannya.[10]
            Nabi SAW bersabda:
ﺘﺧﺭﺝ ﻋﻨﻖ ﻤﻦ ﺍﻟﻨﺎ ﺭﻴﻭﻢ ﺍﻟﻘﻴﺎ ﻤﺔ ﻓﻴﻘﻭﻞ ﺇﻧﻲ ﻭﻛﻟﺖ ﺑﺛﻟﺎﺛﺔ ﺑﻛﻞ ﻤﻦ ﺪﻋﺎ ﻤﻊ ﺍﷲ ﺇﻟﻬﺎ ﺁﺧﺮﻭﺑﻜﻞ ﺟﺑﺎ ﺮﻋﻨﻴﺪ ﻭﺑﺎﻟﻤﺻﻭﺮﻴﻦ
“Nanti pada hari kiamat akan keluar unqun (jenis binatang) dari dalam neraka, ia berkata, “Aku diperintahkan untuk (menyiksa) tiga jenis manusia: orang-orang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, penguasa yang kejam lagi bengis, dan tukang-tukang gambar.”[11]
            Adapun menggambar atau melukis pemandangan dan makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang, dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa, baik si pelukisnya ataupun yang menyimpannya dan tidak ada pertentangan sama sekali di kalangan para ulama. Namun, selama gambar-gambar tersebut tidak melupakan ibadah dan tidak sampai kepada pemborosan. Kalau sampai demikian, hukumnya menjadi makruh.[12]
            Rasulullah bersabda:
ﻻ ﺗﺪ ﺧﻞ ﺍﻟﻤﻼ ﺌﻜﺔ ﺑﻴﺗﺎ ﻓﻴﻪ ﻜﻟﺐ ﻭﻻﺻﻭﺭﺓ
“Malaikat (pembawa rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar.”[13]
            Di dalam Sunan Abu Dawud disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah SAW bersabda:
ﻻ ﺗﺪ ﺧﻞ ﺍﻟﻤﻼ ﺌﻜﺔ ﺑﻴﺗﺎ ﻓﻴﻪ ﻜﻟﺐ ﻭﻻﺻﻭﺭﺓ ﻭﻻﺟﻨﺐ
“Malaikat (pembawa rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar atau orang junub.”[14]
            Menjelaskan hadits di atas, al-Khaththaabiy Rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan dalam hadits itu adalah malaikat rahmat, bukan malaikat hafazhah (penjaga). Sebab malaikat hafazhah itu tidak pernah meninggalkan orang yang dijaganya, baik orang yang junub maupun orang yang tidak junub. Dikatakan bahwa yang dimaksud bukan orang junub bukanlah orang yang mengakhirkan mandi sampai tiba waktu shalat, tetapi maksudnya adalah orang junub yang tidak mandi dan meremehkan perkara mandi janabah ini, serta menjadikan hal itu sebagai kebiasaan. Ini karena Rasulullah SAW pernah menggauli istri-istri beliau dengan satu kali mandi saja.”[15]
‘Aisyah R.A. berkata, “Adalah Rasulullah SAW tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air.”[16]
            Adapun yang dimaksud dengan anjing pada hadits itu adalah orang yang memiliki anjing bukan untuk menjaga ladang, ternak, atau berburu. Jika anjing diperlukan untuk suatu kepentingan semisal menjaga rumah, maka tidak mengapa, insya Allah.
            Sedangkan yang dimaksud dengan gambar adalah semua bentuk gambar atau lukisan dari makhluk yang bernyawa, baik ia berupa patung, ukiran pada langit-langit rumah, dinding, atau disulamkan pada permadani dan kain atau ditempelkan pada suatu tempat, dan lain sebagainya.
            Gambar-gambar tersebut wajib dirusak dan dihilangkan bagi orang yang mampu melakukannya. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Hayyan bin Hushain bahwa ‘Ali bin Abu Thalib R.A. berkata, “Ketahuilah, aku mengutusmu berdasarkan apa yang Rasulullah SAW mengutusku dahulu, yaitu: Jangan engkau biarkan satu gambarpun kecuali engkau hilangkan, dan jangan engkau biarkan satu kuburanpun yang menonjol dari permukaan tanah kecuali engkau ratakan ia.”[17]






C.    Penutup
Menggambar dan melukis merupakan salah satu dosa-dosa besar yang diharamkan dan dilarang oleh Allah swt, yang telah tercantum pada firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an; serta Rasulullah SAW melalui sabda hadits-haditsnya.
Ciptaan Allah sebagaimana yang terlihat, bukan terlukis di atas dataran tetapi berbentuk dan berjisim[18], sebagaimana firman Allah:

 “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[19]
Semoga Allah swt menunjukkan kepada apa saja yang dicintai dan diridlai-Nya.
Do’a penutup:
ﺴﺑﺤﺎﻨﻚ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻭﺑﺤﻤﺪ ﻚ ﺃﺸﻬﺪ ﺃﻦﻻ ﺇﻠﻪ ﺇﻻ ﺃﻧﺖ٬ ﺃ ﺳﺘﻐﻔﺮﻙ ﻭﺃﺗﻮﺏ ﺇﻠﻴﻙ
“Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”[20]
Semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Adz-Dzahabi, Imam. 2008. Dosa-dosa Besar. Solo: Pustaka Arafah.
Qaradhawi, Dr. Yusuf. 2007. Halal dan Haram. Bandung: Jabal.



     [1]Al-Qur’anul Karim (Q.S. An-Nisaa’: 31).
     [2]Al-Qur’anul Karim (Q.S. Al-Ahzab: 57).
     [3]Dr. Yusuf Qaradhawi, Halal wal Haram fil Islam atau Halal dan Haram, terj. Tim Kuadran. (Bandung: Jabal), h. 115.
     [4]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5951, 7558) dan Muslim (2108).
     [5]Op.Cit.
     [6]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5954) dan Muslim (2106).
     [7]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2225) dan Muslim (2110).
     [8]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5963) dan Muslim (2110).
     [9]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5953, 7559) dan Muslim (2110) dari Abu Hurairah.
     [10]Dr. Yusuf Qaradhawi, Halal wal Haram fil Islam atau Halal dan Haram, terj. Tim Kuadran. (Bandung: Jabal), h. 116.
     [11]Diriwayatkan oleh Ahmad (2/ 336) dan At-Tirmidzi (2574) dari Abu Hurairah dan di shahihkan oleh Asy-Syaikh dalam Ash-Shahih (8051) dan Ash-Shahihah (512).
     [12]Op.Cit., h. 117 dan 127.
     [13]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5948, 5958), Muslim (2106), dan At-Tirmidzi (2804) dari Thalhah.
     [14]Diriwayatkan oleh Ahmad (1/ 83, dan 104, 139, 150), Abu Dawud (227), An-Nasa’i (1/ 141), Ibnu Majah (3650), dan di dhaifkan oleh Asy-Syaikh dalam Dhaif Abi Dawud (38), dan Dhaif Al-Jami’ (6203).
     [15]Muttafaqun ‘Alaih: Dari riwayat Anas, lihat Shahihul Jami’ (4977).
     [16]Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud (228), At-Tirmidzi (118, 119), dan An-Nasa’I beserta Ibnu Majah (581) dari ‘Aisyah dan di shahihkan oleh Asy-Syaikh dalam Shahih Al-Jami’ (5019).
     [17]Diriwayatkan oleh Ahmad (1/ 96, 128), Muslim (669), Abu Dawud (3218), An-Nasa’i (4/ 88), dan Abu Ya’la (338) dari Ali.
     [18]Dr. Yusuf Qaradhawi, Halal wal Haram fil Islam atau Halal dan Haram, terj. Tim Kuadran. (Bandung: Jabal), h. 120.
     [19]Al-Qur’anul Karim (Q.S. Ali-Imran: 6).
     [20]Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3433), An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (400), Ibnu Hibban (2366) dalam Shahih Mawaaridizh Zham-aan (2007), Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (447) dan Al-Hakim (1/ 536-537), dari Sahabat Abu Hurairah R.A. Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi (3/ 153 dan 2730). At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Al- Hakim menshahihkannya dan di setujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Hadits ini diriwayatkan juga dari Sahabat Abu Barzah, ‘Aisyah dan Jubair bin Muth’im R.A.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar